• Jelajahi

    Copyright © Tewe My ID BloggerIndo
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Author Details

    Ternyata ada 2 Wanita Lebih Hebat dari Ra Kartini

    AriefTewe
    Rabu, 15 April 2015, April 15, 2015 WIB
    Mengapa harus kartini
    Pejuang Wanita Luar Biasa

    Pernah Tidak Dalam Hati Bertanya Mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia? Apakah Tidak ada lagi Seorang Wanita Selain Beliau? Sedangkan Menurut Sejarah, Ada dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia loh. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh. Kedua, yaitu Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, Kedua wanita ini tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani) lalu. Padahal, Bila ditelisik kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Ini Bukan Masalah Iri ataupun apa. Karena Kita juga Tidak Boleh Menutupi bahkan Menghapus Banyak Kisah Sejarah demi Menonjolkan salah satu Pahlawan Indonesia.

    Sebut saja Sultanah safiatudin sebagai sosok Wanita yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain Bisa bahasa Aceh dan Melayu, Beliau pun menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di Saat Beliau Memimpin, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Beliaupun berhasil menolak usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. Alhasil VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memimpin Aceh cukup lama, yaitu antara Tahun 1644-1675. Beliau dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita di masa itu.

    Yang Kedua Sebut Saja Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan saja, melainkan juga mahir dalam ilmu kesusastraan. salah Satu orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan B.F. Matthes, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Beberapa Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, Beliau mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan lebih modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak Laki-laki maupun Perempuan dimasa itu. Itulah dua wanita hebat yang hidup jauh sebelum Kartini dilahirkan.

    Setelah membaca Dari Profil kedua wanita Hebat diatas adalah salah satu Contoh Pembanding. Bahwa Diketahui sebuah gambaran situasi sosial masyarakat di Nusantara Tempo dulu, yang sangat menindas kaum perempuan dari buku-buku pelajaran sejarah di sekolah yang kita terima itu, adalah Sebuah gambaran yang sama sekali tidak berdasar. Contoh Lain Selanjutnya adalah Dewi Sartika dari Bandung dan Rohana dari Kudus (di Padang kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang sengaja tidak dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari apa yang RA. Kartini Lakukan.

    Berikut dibawah ini adalah paparan tentang dua sosok wanita Hebat itu, sebagaimana dikutip dari sebuah artikel dari Tiar Bahtiar.
    Dewi Sartika (1884-1947)
    bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung.
    Rohana Kudus.
    melakukan hal yang sama di kampung halamannya sekitar tahun 1884-1972. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia Tahun1911 dan Mendirikan Rohana School Tahun 1916, Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat Beliau Berpindah ke Medan. Beliau Tercatat sebagai Jurnalis wanita yang Pertama di negeri ini.

    Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat menyurat, mereka-mereka ini Telah lebih jauh melangkah mewujudkan ide-ide dalam tindakan yang nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang Ber-inisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, tahun 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan). Bahkan apabila melihat dari kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera dihapuskan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan penjajahan. Perlu diketahui Bahwa Tengku Fakinah selain ikut berperang, Beliau adalah seorang ulama-wanita.

    Di Daerah Aceh wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang, dan kala itu bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh- jauh hari sebelum masa Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh Telah mempunyai SeoeangPanglima Angkatan Laut wanita yang pertama, yaitu Bernama Malahayati.

    Pertanyaan saya Dari Dahulu ialah MENGAPA HARUS KARTINI? Bukankah Banyak Pahlawan Wanita Lainnya? Bangsa Indonesia harus bisa berpikir lebih jernih. Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Apakah karena Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda? Sehingga Ia tidak pernah menyerah ataupun berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini. Rohana Kudus, meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Beliau juga mempunyai visi misi keislaman yang tegas. Modernisasi atau Sekarang disebut Emansipasi tidak berarti wanita Harus sama segala-galanya dengan laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kekurangan, Kelebihan dan kewajibannya. Demikian juga laki-laki dengan Kekurangan, kelebihan dan kewajibannya.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini