Cerpen : Anakku Seorang Pendekar

Anakku Seorang Pendekar
Cerpen Anakku Seorang Pendekar

Oleh : Arief.Tewe

Tak Terlihat Tanda Bahwa Dia adalah Anak Yang Berbakat dalam Ilmu olah Kanuragan. Karena Dia Juga Seorang Bocah Yang Sama Seperti Lainnya yang riang Bermain dengan Anak Sebayanya. Dia Masih Berumur 8 tahun Anak Dari Darmo dan Rianti.

Di Desa Pingitan Yang Mereka Tinggali ini Memang Jauh dari Keramain Kota. Jika Malampun Tiba, Suara Hewan Malampun Masih Sering Terdengar yang Menandakan Masih Alaminya Desa itu.

Malam itu siswo Sedang Latihan Di Dalam Kamarnya Dengan Kaki Di atas dan Kepala di Bawah. Kedua Tangannya Sendekap Seakan Dia Menikmati Posisi yang Dia Lakukan. Ibunya Rianti pun Terkejut mana kala Membuka Pintu Kamar Siswo.

“Siswo, Apa Yang Kamu Lakukan?” tanya Ibunya Yang Tampak Kuatir dengan Posisi Anaknya itu.
Siswo Menjawab : “Tak Apaapa Bu Cuma Sedikit Latihan.”
“Siapa Yang Mengajari Kamu Seperti Ini” Kata Ibunya Dengan Suara agak Keras.
“Tak ada yang Mengajari Bu, Cuma Meniru Latihan Kungfu yang ada di TV”. Jawab siswo kepada Ibunya.
“Sudahlah, Tidurlah Sana Sudah Malam ini.” Seru Ibunya. Siswopun Mengakhiri Latihannya dan Beranjak Ke Tempat Tidurnya.

Pagi Harinya Siswo Pergi Ke Sekolah Yang Berjarak satu Kilo meter dari Rumahnya. Di saat Berjalan Sendirian Siswo menggerakan kedua tangannya seakan-akan menghafal Jurus-jurus yang dia telah Tonton di TV. Begitu hari demi Hari siswo saat Berangkat dan Pulang dari sekolah. Siswo adalah anak satu-satunya dan Tentu saja yang Paling di Sayangi Oleh Keluarga.

Pak Darmo dan Ibu Rianti merupakan Seorang Petani Biasa. Setiap Hari Pagi dan Sore hari selalu Mengunjungi Sawah Padinya yang Tak Jauh Dari Rumah. Mereka Keluarga yang Harmonis dan Masalah Ekonomipun Terbilang Cukup. Meski di Daerah Perkampungan, Rumah Mereka Termasuk Bagus dan kokoh. Yang dibangun saat mereka mendapat Untung Panen Berlebih.

Setelah Selesai Mengaji di sore hari Siswo tak lupa akan tugas rutinnya yaitu menyapu halaman rumah. Membersihkan daun-daun yang berserakan karena tertiup angin Dengan Sapu Lidi buatannya sendiri. Saat Sendirian di Belakang Rumah, siswo melakukan gerakan-gerakan Lincahnya Menyapu yang Dia Gabungkan dengan gerakan jurus-jurus yang dia pelajari sendiri. Selesai menyapu, sapu lidi itu Dia Simpan di dalam Kamarnya. Dalam Fikirannya agar Tak Lupa dan tidak Mencari-cari lagi saat Membersihkan halaman rumah setiap Sore.

Pada Suatu Hari, Pak Darmo dapat Telephon Dari Keluarganya di Jawa Timur. Yang Mengabarkan bahwa salah satu Keluarganya Ada yang Sakit. Dan Pak Darmopun Bersedia Berangkat Untuk Menjenguknya. Pak Darmo Berkata Pada Istrinya :”Aku Berangkat Dulu ya Bu, Mungkin Sekitar dua Hari Aku Pulang.” “Iya Pak, Hati-Hati Di Jalan Salam Buat Keluarga di sana.” Sahut ibu Riyanti. “Nanti Jangan Lupa Siswo Suruh Cari Rumput dan Masukin Kambingnya ke kandang.” Pesan pak Darmo Ke Ibu Riyanti. “iya pak, Nanti Selesai Sekolah saya Akan suruh Siswonya.” Jawab ibu Riyanti. Dan Pak Darmopun Pergi dengan Tumpangan Ojeg dan Menuju Ke Terminal Bus.

Terlihat Siswo dari Jauh pulang dari Sekolahnya. Ibu Riyantipun tak Lupa Menyampaikan Pesan dari Ayahnya siswo. “Sis, Bapak kan Hari ini Pergi Ke Tempat Saudara, Tadi Bapak Pesan Kamu Cari Rumput dan Masukin Kambingnya Ke kandang lagi.” Kata Bu Riyanti. “Iya Bu, Setelah Makan Saya Cari Rumputnya dan setelah Mengaji, Saya Masukin Kambingnya Ke kandang.” Jawab siswo. “Oh.. Ya sudah, kamu Istirahat Dulu Kemudian Makan ya? Setelah itu Baru Cari Rumput.” Tegas Ibunya. “Iya Bu.” Sahut siswo.

Sore itu semua Tugas sudah di Kerjakan siswo. Kambing pun Telah Rapi Terkunci Di kandangnya di Samping Rumah. Malam semakin Sepi. Siswo dan Ibunya terlihat Asyik Menonton acara TV. Waktu Menunjukkan pukul 21.00. Ibu Riyanti Berkata : “Sis, Besok kan Kamu Sekolah, Tidurlah Biar Besok Tak Kesiangan.” “Sebentar Lagi Bu, Nunggu Iklan Dulu Nanti siswo Tidur.” Jawab siswo. Setelah Iklan tayang di TV ada, siswo pun Bergegas Ke kamar Tidurnya. Dan Ibu Riyanti Masih Terjaga Dengan TVnya Sambil Tiduran Di Sofa Ruang Tamu. Tak Terasa Waktu Menunjukan Waktu Pukul 23.00 dan Bu Riyanti Tak Sengaja Tertidur di Depan TV.

Ada Bayangan 2 Orang sedang Mendekati Rumah itu. Rupanya Kedua Orang itu Tahu Kepergian Pak Darmo Siang Tadi Untuk Menjenguk Saudara yang Sedang Sakit.

“Bagaimana, sudah aman Belum?” tanya salah seorang temannya.
“Kliatannya Sudah tidur tapi Tv Masih Menyala.” Jawab temannya.
“ya sudah, Kita Bagi Tugas aja, Kamu Ambil Kambing itu, Biar Saya yang Masuk ke Dalam.” Saran Temannya.
“Oke” jawab salah satu Temannya. Keduanyapun Berbagi Tugas. Dan Bergegas untuk menjalankan aksinya.

Rupanya Ibu Riyanti Lupa Mengunci Rumahnya sampai Tertidur di depan TV. Maling itupun sangat mudah Masuk ke dalam rumah. “wih, tak Di Kunci, Bagus..” gumamnya dalam Hati. Maling itu melihat Ibu Riyanti yang Masih Terlelap di Kursi Sofa di ruang tamu. “ tidurlah yang Nyenyak Biar Harta Bendamu Bisa Aku Ambil.” Gumamnya dalam hati. Maling itupun langsung menuju kamar ibu Riyanti dan Mengacak-acak isi lemari, Rak meja dan Kasur. “Yes, ini dia Uang dan kalung emasnya” kata hatinya sambil Tersenyum.

Di Lain Tempat Maling yang Bertugas Untuk Mencuri Kambing Sudah Berhasil Membuka Kandangnya. Namun Na’asnya Suara Kambingnya Seakan Semakin lama semakin gaduh. “Sialan. Berisik aja ni Kambingnya.” Gerutunya. Tanpa di Sangka Suara Kambing itu mengganggu Tidurnya Siswo. Dan Siswopun Melihat dari Jendela pelan-pelan Agar Tak Menimbulkan Kecurigaan. Siswopun melihat Seseorang Mengacak-acak Lemari Ibunya.

“Ibu,ibu.. ada Maling Bu..!! Teriak Keras Siswo.
Seketika itu Ibunya Bangun dari sofa namun Setelah Ibu Riyanti Menghampiri siswo, Di depannya sudah Di Todongkan Pisau Tajam. “Jangan Teriak.. atau aku Bunuh kalian Berdua.!! Ancaman maling kepada siswo dan Ibunya.
Ibu Riyanti pun Panas dingin Mendengar Ancaman dari Maling tersebut. Mengakibatkan Dirinya Pingsan Tak Sadarkan diri. “Ibu.. ibu, Bangun Bu.” Suara siswo sambil Menangis Lirih.
Di saat Bersamaan Itulah Siswo tak ada Pilihan Lain Kecuali Melawan. Di lihatnya sapu lidinya yang selalu ia simpan di kamar. Kemudian Dia Ambil dengan Cepat dan Menghujamkan Ujung Sapu Lidinya ke arah Muka maling Tersebut. “aahhh... mataku.. aauww.” Rintihan Maling Berucap. “sialan kau Bocah..! Gerutu si maling.

Siswo Terus Menyerang Maling Tersebut Dengan Jurus-jurus yang Dia Pelajari saat Menyapu Halaman itu. “hiat.. uh.” Serangan siswo Bertubi-tubi. Dan Malingnyapun Lari tanpa arah Meninggalkan Siswo dengan Kedua Matanya Yang Terluka Oleh Tusukan Sapu Lidi Milik Siswo.

“Tolong aku.. tolong aku..! Teriak Memanggil Temannya.
“ta..ta..pi.. Kambingnya Bagaimana?” jawab Temannya itu.
“Sudah Tinggalkan saja, Bawa aku Ke Rumah Sakit.” Katanya sambil Menahan Perih di mata. Kedua Maling Tersebut lari dan hilang di Gelapnya Malam.

Siswo Menangis Lirih Berusaha Membangunkan Ibunya Yang Pingsan Tersebut. “Ibu.. ibu, Bangun Bu..” suara Siswo penuh harap. “sis, kamu tak apa-apa nak.” Sahut ibunya sambil Terbata-bata. “Ibu Sudah sadar?” kata Siswo serasa Senang Mendengar Suara Ibunya Yang Telah sadar Dari Pingsannya. “Ibu Berbaring Saja dulu, agar lebih sehat.” Saran siswo kepada Ibunya. Ibu Riyantipun Beranjak menuju Kamarnya. Saat itu Dia Melihat Keadaan kamarnya “Ya Tuhan, mereka Mengacakacak Lemari Ibu sis, Tapi Mengapa Uang dan Kalung Emasnya Tidak Di Bawa?” Tanya Ibu Keheranan. “Nanti aku Ceritakan, Ibu Tiduran Saja Biar aku yang Merapikan Lemarinya.” Kata siswo sambil merapikan Pakaian kedua orang tuanya yang sudah di Acak-acak maling.

“Ibu Heran, mengapa kalung emas dan Uangnya Tidak Di Bawa Pencuri Itu?” Tanya Ibu penuh Penasaran.
“Tadi Bu, Waktu Ibu Pingsan, siswo melawan dan Melukai Kedua Matanya pakai sapu lidi.” Jelas siswo kepada ibunya.
“apa.. Sapu Lidi ?” tanya ibunya.
“Iya Bu, Soalnya kan Aku selalu simpan Sapu Lidinya Di kamar jadi Alat yang Terdekat Cuma Itu Untuk Melawan Maling itu Bu.” Terang siswo kepada ibunya.
“Anak Ibu sangat Berani, Ibu tak Menyangka Kamu Seberani itu sis.” Kata ibu sembari Tersenyum Bangga.

“Oh ya Bu, Aku Mau Masukin Kambing, tadi Kira-kira ada 2 orang Yang Nyatroni Rumah kita, karena yang Satu hampir saja Membawa Kambing Kita.” Jelas siswo Kepada ibunya.
“ Oh Ternyata Malingnya ada 2 Orang?” sahut Ibunya sambil Mengerutkan dahinya.
Siswopun Beranjak untuk Memasukan Kambingnya ke Kandang. Di saat Memasukan Kambing Ibu Riyanti Berkata :”Sis, Bagaimana Kalau Kita Laporkan kejadian Ini ke Paman Totok, pamanmu itukan Polisi, Biar Malingnya Di Penjara.”
“Tapi Bagaimana Kita Mencarinya Bu?” jawab siswo.
“itu Sangat Mudah sis, Kita Minta Tolong Paman Totok Untuk Mencari setiap Rumah Sakit, Orang Dengan ciri Yang Matanya Terluka.” Jelas Ibu ke siswo.
“Iya Ya bu, Andai Tidak Di laporkan Di Kuatirkan mereka Berdua Akan Balas Dendam Kepada Kita.” Sahut siswo Penuh Pengharapan.
Ibu Riyanti segera Menelphone Paman Totok dan Menceritakan Awal Mula sampai Akhir Kejadian Semalam. Dan Tak Sampai 24 Jam malingnya pun Di Ketemukan Di Salah satu Klinik Dokter Mata. Dan Akan Di Proses Secara Hukum Yang Berlaku.


Author

AriefTewe AriefTewe Hanya seorang Tukang Sapu.

Posting Komentar